BUMDES: Mesin Ekonomi Desa yang Mengubah Indonesia dari Bawah

BUMDES: Mesin Ekonomi Desa yang Mengubah Indonesia dari Bawah

Studi Kasus: BUMDes Sauyunan Kasomalang Kulon (Subang) dan Kampung Kreatif Karangrena (Cilacap)

 

 

Dr. Karsam, ASEAN CPA,CFI.

(Penulis Ketua Dewan Pakar FKKB SMANJIMAS)

 Peneliti,Akademisi dan Praktisi Akuntan Publik

email : karsamse86@gmail.com   karsam@kapkarsam.id

 

 

Indonesia Membangun dari Pinggiran

Ada sebuah paradoks besar dalam pembangunan Indonesia. Sebagian besar sumber daya alam negeri ini — tanah subur, air bersih, hutan, pemandangan indah — berada di desa. Namun justru desa pula yang selama puluhan tahun menjadi sumber kemiskinan dan pengangguran. Jawaban atas paradoks ini kini mulai tampak wujudnya: BUMDes, atau Badan Usaha Milik Desa.

Berdasarkan data Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi per Juni 2024, tercatat ada sebanyak 65.941 BUMDes di Indonesia. Dari jumlah tersebut, 18.850 di antaranya telah berbadan hukum. Sementara data terbaru menunjukkan total keseluruhan BUM Desa dan BUM Desa Bersama secara nasional telah mencapai 73.205 unit. Antara NewsKemendesa

Namun angka besar saja tidak cukup bercerita. Yang jauh lebih menarik adalah kisah di balik angka-angka itu — bagaimana dua desa di Jawa, dengan modal sosial dan kreativitas lokal, membuktikan bahwa BUMDes bukan sekadar program pemerintah, melainkan sebuah gerakan transformasi ekonomi yang nyata.

BUMDes Sauyunan — Ketika Desa Menata Diri "Rasa Kota"

Kasomalang Kulon, Subang, Jawa Barat

Di ketinggian 500 mdpl, di antara hamparan kebun teh dan ladang nanas Subang, berdiri Desa Kasomalang Kulon. Desa ini bukan desa biasa. Ia menyimpan kombinasi langka: luas wilayah 39,44 km² dengan iklim pegunungan yang mendukung pertanian hortikultura, sekaligus berada di jalur strategis Jalan Raya Provinsi. Jabar Publisher

BUMDes-nya bernama Sauyunan — dari bahasa Sunda yang berarti bersatu hati — dan inilah yang membedakannya dari ribuan BUMDes lain di Indonesia.

 

Model CBT: Seluruh Desa Adalah Perusahaan

Capaian terbaik dari Desa Wisata Kasomalang Kulon adalah terintegrasinya seluruh potensi yang dikelola oleh BUMDes Sauyunan berbasis CBT (Community Based Tourism) — di mana seluruh SDM, UMKM, dan homestay-nya berasal dari masyarakat desa itu sendiri. Desa ini berhasil masuk 500 Besar ADWI 2023 dan menjadi salah satu dari 85 Besar Desa Wisata di Jawa Barat yang direkomendasikan untuk dikunjungi. Kemenpar

Model CBT ini bukan sekadar label. Ia berarti ibu rumah tangga yang menyulap rumahnya menjadi homestay, petani nanas yang mengolah produknya menjadi keripik dan selai untuk dijual ke wisatawan, dan pemuda desa yang menjadi pemandu wisata. Rumah-rumah tua peninggalan zaman kolonial pun dikolaborasikan dengan BUMDes untuk dijadikan homestay bernuansa kolonial, yang memberikan pengalaman menginap otentik dan klasik di tengah kesejukan pedesaan. BUMDes Sauyunan kini memasarkan paket-paket wisata lengkap, dari one day trip hingga paket menginap, yang mencakup wisata edukatif, sejarah, dan eksplorasi alam. CLUETODAY

 

Program "Teras Angkringan Desa": Memberi Warung, Bukan Ikan

Inovasi BUMDes Sauyunan tidak berhenti di pariwisata. BUMDes Sauyunan memiliki program pemberdayaan masyarakat bernama Teras Angkringan Desa, yang dirancang untuk meningkatkan pendapatan warga berbasis potensi lokal. Meski pelaksanaannya sempat terkendala pandemi Covid-19 termasuk soal pengembalian modal, dampak program ini terlihat jelas dari pendapatan para pesertanya yang tumbuh stabil dan meningkat. UPI Repository

 

Pengakuan Nasional dan Kolaborasi Akademik

BUMDes Sauyunan telah menjadi salah satu motor penggerak perekonomian Desa Kasomalang Kulon. Profesionalisme dan akuntabilitas disebut sebagai dua pilar utama yang harus dibangun dalam pengelolaannya. Keberhasilan BUMDes, menurut para ahli, tidak semata ditentukan oleh besarnya potensi usaha, melainkan juga kualitas sistem manajemen dan transparansi pengelolaan keuangan. Good News From Indonesia

Pengakuan itu kini datang dari dunia akademik: pada April 2026, sebanyak 64 perguruan tinggi dan 173 dosen dari seluruh Indonesia hadir di Desa Wisata Kasomalang Kulon untuk melaksanakan Pengabdian Masyarakat Kolaborasi VII, menjadikan desa tersebut ruang belajar kolaboratif nasional. Esaunggul

Pemerintah Kabupaten Subang pun secara khusus menjadikan BUMDes Kasomalang Kulon sebagai contoh sukses pengelolaan potensi alam dengan konsep desa wisata yang terbukti menyumbang Pendapatan Asli Desa (PADes).

 

Kampung Kreatif Karangrena — Kreativitas Warga sebagai Modal Utama

 

Desa Karangrena, Kecamatan Maos, Cilacap, Jawa Tengah

Sementara Kasomalang Kulon membangun di atas hamparan alam, Desa Karangrena di tepian Sungai Serayu, Cilacap, membuktikan bahwa modal utama pembangunan desa bisa berupa sesuatu yang tak terlihat: kreativitas dan semangat gotong royong warganya.

 

Dari RT 01 ke Ikon Kabupaten

Kisah Kampung Kreatif Karangrena dimulai dari sebuah usulan sederhana di tingkat RT. Ide pengembangan kampung kreatif berawal dari usulan seorang warga kepada Ketua RT 01 RW 06, yang kemudian dikomunikasikan ke Pertamina Patra Niaga FT Maos untuk mendapat dukungan program CSR. Destinasi wisata edukasi ini resmi diluncurkan pada 2019, sempat terhenti akibat pandemi Covid-19, dan kemudian diaktifkan kembali. Antara News

Konsep Kampung Kreatif Karisma (K3P) adalah memanfaatkan sarana dan prasarana yang ada di wilayah tersebut agar menjadi lebih menarik — dengan cara mengubah tampilan jalan, perumahan, dan fasilitas umum menjadi berbagai kreasi lukisan, atau menyulap barang bekas menjadi karya kerajinan tangan. TIMES Indonesia

 

Ekosistem Wisata Edukasi yang Terintegrasi

Yang membuat Karangrena menonjol adalah keterpaduannya. Berbagai fasilitas dibangun bersama warga: sanggar budaya, gedung kesenian, fasilitas UMKM lokal, budidaya hortikultura, dan homestay. Peran serta warga disebut lebih dominan dibandingkan perusahaan, menjadikan model ini unik di antara program CSR serupa. Antara News

Kampung Kreatif Karisma Pertamina (K3P) membingkai keberagaman aktivitas dalam konsep Wisata Edukasi Budaya dan Pertanian, yang mencakup seni tradisional (tari, gamelan, ketoprak), budidaya hortikultura, hingga kegiatan atletik seperti panahan dan berkuda. Inovasi teknologi pertanian bernama Saraswati (Serayu Smart System Water Irrigation) pun dikembangkan untuk membantu petani memantau kondisi tanah secara digital. Pubmedia

 

Lumbung Padi yang Juga Melek Budaya

Kecamatan Maos dikenal sebagai lumbung padi Kabupaten Cilacap, yang turut berkontribusi menjaga pasokan pangan nasional. Pengembangan Kampung Kreatif Karangrena menambahkan dimensi baru pada identitas ini — mengangkat desa bukan sekadar produsen beras, melainkan juga produsen pengalaman budaya dan wisata. KOMPASIANA

Kampung Karisma dirancang sebagai wadah ekonomi kreatif yang memaksimalkan keberadaan Sungai Serayu sebagai ikon desa, dengan kreativitas sumber daya manusia sebagai faktor penggerak utamanya

 

APA YANG BISA KITA PELAJARI?

Komparasi Dua Model, Satu Semangat

Kedua desa ini mewakili dua pendekatan berbeda yang saling melengkapi:

 

Keduanya membuktikan bahwa tidak ada formula tunggal untuk BUMDes yang berhasil. Yang ada adalah formula universal: kenali potensi lokal, libatkan seluruh warga, dan kelola dengan akuntabilitas.

TANTANGAN YANG HARUS DIJAWAB

Jujur saja, potret indah ini tidak berarti perjalanan mulus. BPKP mencatat bahwa masih ada 24,2 persen BUMDes di Indonesia yang tidak aktif — hanya berdiri di atas kertas, ada penyertaan modal dari desa, namun tidak bergerak dan tidak mampu mengaktifkan perekonomian desanya. Antara News

Hambatan klasik yang masih mengintai meliputi: kapasitas SDM pengelola yang terbatas, transparansi keuangan yang lemah, dan ketergantungan pada satu jenis usaha. Kasus Kasomalang Kulon pun bukan tanpa hambatan — program Teras Angkringan Desa sempat terkendala pandemi dan kurangnya minat masyarakat di masa awal

Desa Bukan Objek, Melainkan Subjek Pembangunan

BUMDes Sauyunan dan Kampung Kreatif Karangrena memberikan satu pesan yang kuat: desa terbaik bukan desa yang menunggu bantuan dari pusat, melainkan yang mengubah potensinya sendiri menjadi nilai ekonomi.

Dengan lebih dari 73.000 BUMDes yang kini tersebar di seluruh Indonesia, potensinya luar biasa. Jika separuh saja dari mereka mampu berjalan seaktif Kasomalang Kulon atau sekreatif Karangrena, maka desa-desa Indonesia bukan lagi kantong kemiskinan — melainkan mesin pertumbuhan ekonomi baru dari pinggiran negeri.